TAKALAR, LintasNusantara.Online — Antrean panjang kendaraan terlihat di SPBU 74.922.47 Panaikang, Kabupaten Takalar, pada Sabtu (31/10/2026) sekitar pukul 05.43 WITA. Sejak pagi hari, sejumlah kendaraan tampak memadati area pengisian bahan bakar minyak (BBM), baik untuk mendapatkan solar subsidi maupun Pertalite.
Pantauan di lokasi menunjukkan masyarakat mulai berbondong-bondong mendatangi SPBU sejak pagi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan semakin sulitnya masyarakat memperoleh BBM, sehingga pengendara memilih datang lebih awal demi mendapatkan bahan bakar sebelum stok habis.
Fenomena antrean panjang ini menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, kendaraan terlihat semakin memadati SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai ketersediaan stok, pola distribusi, hingga pengawasan penyaluran BBM di wilayah Kabupaten Takalar.

Masyarakat tentu membutuhkan kepastian terkait penyebab BBM, khususnya solar subsidi dan Pertalite, yang dinilai semakin sulit diperoleh dan cepat habis.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah kondisi ini murni disebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat, terbatasnya pasokan, atau terdapat persoalan lain dalam distribusi BBM di lapangan?
Pihak pengelola SPBU 74.922.47 Panaikang bersama Pertamina diharapkan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kuota pasokan, jadwal distribusi, serta penyebab terjadinya antrean panjang tersebut.

Selain itu, aparat terkait dan instansi pengawas BBM subsidi diharapkan tidak tinggal diam. Pengawasan perlu dilakukan untuk memastikan penyaluran solar subsidi dan Pertalite benar-benar sesuai peruntukannya, serta tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan di tengah kebutuhan masyarakat.
Jangan sampai masyarakat kecil, khususnya petani, nelayan, dan pengguna kendaraan yang bergantung pada BBM bersubsidi, justru menjadi pihak yang paling dirugikan akibat persoalan distribusi.
BBM subsidi adalah hak masyarakat yang memenuhi ketentuan, bukan ruang bagi praktik penyalahgunaan. Masyarakat membutuhkan kepastian, transparansi, dan pengawasan nyata agar antrean panjang tidak terus menjadi pemandangan sehari-hari di Kabupaten Takalar.(Kr)

Leave a Reply